Sabtu, 19 Februari 2011

resep makanan

Bubur Beras Merah Saus Jeruk (usia 6-9 bulan)

bubur beras merah saus jerukBahan:
8 gram tepung beras merah
40 ml air
1 sendok takar susu formula bubuk
100 ml sari jeruk manis

Cara membuat:

  1. Siapkan panci, campur tepung beras dan air sedikit demi sedikit. Jerang panci di atas api sambil diaduk hingga mendidh dan mengental. Angkat dan biarkan agak dingin.
  2. Tambahkan susu formula bubuk dan aduk hingga tercampur rata. Sajikan segera denga sari jeruk.

Untuk 1 porsi


Tim Makaroni ( 9 bulan)

tim makaroniBahan:
25 gram makaroni, rebus, tiriskan
100 ml susu cair
50 ml air kaldu
30 gram daging ayam, rebus, cincang
25 gram tahu, potong kecil

25 gram kacang polong (green peas)
25 gram tomat, iris halus

Cara membuat:

  1. Rebus makaroni bersama susu, air kaldu, daging ayam dan tahu.
  2. Masukkan kacang polong serta tomat. Aduk sampai matang, angkat.
  3. Tempatkan dalam piring atau mangkuk saji.
  4. Suapkan dalam sendok kecil dalam keadaan hangat.

Untuk 1 porsi


Nasi Tim Ikan (9 bulan)

nasi tim ayamBahan:
625 ml air
20 gram beras cuci bersih
30 gram daging kakap, iris kecil
25 gram tempe, iris kecil
25 gram tomat, iris kecil
25 gram daun kangkung, iris halus
1 sendok makan santan kental

Cara membuat:

  1. Rebus air bersama beras, daging kakap, dan tempe. Aduk-aduk sampai menjadi bubur kental.
  2. Masukkan tomat dan daun kangkung. Masak hingga sayuran matang. Tuangi santan. Aduk dan angkat.
  3. Tuang ke piring bayi dan suapkan segera.

Untuk 1 porsi

Jumat, 18 Februari 2011

Alasan Kuat, Mengapa IPB tidak umumkan Susu Berbakteri sakazaki

Alasan Kuat, Mengapa IPB tidak umumkan Susu Berbakteri sakazaki


Kasus yang satu ini, bak sebuah gelombang dahsyat yang sedang menerpa ibu-ibu yang memiliki Balita saat ini. Kasus ini, di media massa statusnya bahkan stara dengan kasus-kasus besar lainnya. Kasus besar Bank Century sudah pasti terlewat jauh, kasus seperti gayus pun telah lenyap. Penyerangan Ahmadyah di Pandeglang juga lewat oleh peristiwa yang satu ini.

Sebenarnya… apa alasan sebuah institusi IPB untuk memilih menutup ‘mulut’ untuk kasus yang sedang berlangsung ini? sebuah jawaban dari dosan di kampus saya, yang bisa memberikan pemahaman apa sebenarnya alasan di balik itu. Etika ilmiah dan hukum yang memang saat ini belum sejalan. bermula dari statu dosen tersebut:

Arya Hadi Dharmawan : Sampai manakah batas kekebalan hukum sebuah “aktivitas riset ilmiah (menyangkut barang yg dikonsumsi publik) yg menghasilkan temuan ilmiah utk pengembangan ilmu” hrs diungkap ke publik? Bila setiap hasil penelitian kritis yg dilakukan oleh ilmuwan perguruan tinggi dipaksa utk diungkap ke publik, dan setelah itu penelitinya dituntut, maka ke depan tak akan ada lagi penelitian kritis yg dilakukan oleh para ilmuwan…

Dari statusnya tersebut… saya kemudian membuat sebuah tulisan di salah satu forum mahasiswa IPB, kebetualn beliau saat itu bergabung di sana… saya menulis….

Abdul Haris : Apa sebenarnya alasan IPB tidak mengumumkan Susu Formula yang mengandung bakteri sakazaki???
*masih tanya-tanya…

Beliau kemudian menjelaskan:

Arya Hadi Dharmawan
Salam prihatin,

Hasil penelitian ilmiah yg dilakukan oleh tim dosen IPB ttg kandungan bakteri enterobacter pada susu formula utk bayi, memasuki babak baru perdebatan publik yg mulai menyita perhatian. Entah kenapa isu ini sama-sama besarnya …dgn isu konflik horisontal Cikeusik dan Temanggung, di panggung TV nasional.

Pokok persoalannya, sejumlah konsumen menuntut IPB untuk membuka ke publik, ttg susu formula merk apa saja yg tercemar bakteri tsb. Alasannya, para konsumen khawatir para balitanya terkena bakteri yg katanya mematikan itu. Proses hukum telah putus di level MA. Pada tataran ini IPB menghadapi dilema (sekaligus jebakan) yg tidak mudah.

Bila tuntutan ini diikuti, maka IPB terkena dua jebakan sekaligus: (1) layakkah secara etika-keilmuan, penelitian ilmiah dibuka ke publik? Bila IPB membuka hasil penelitian ini ke publik, maka ciri lembaga keilmuan IPB (khusus dalam kasus ini) berubah mjd layaknya LSM. IPB pun dianggap mencederai etika saintifik-akademik; (2) diduga ada motif “ekonomi politik” bermain di “panggung belakang” proses penuntutan ini. Bila IPB mengumumkan merk susu formula ke publik, maka tak bisa dijamin para kapitalis produsen susu itu tak akan menuntut balik ke IPB. Pada titik ini IPB akan menjadi “bulan-bulanan” para pemilik modal besar susu formula yg headquater-nya hampir semua berada di negara-negara adidaya ekonomi itu.

Artinya, IPB sedang dijebak, (dalam hal ini) oleh tiga aktor sekaligus: (1) publik/konsumen susu formula; (2) etika akunrtabilitas [hukum positif], (3) “singa-singa” kapitalis yg siap menerkam IPB.

Pertanyaannya bagi kita dibalik keprihatinan ini adalah: Sampai manakah batas kekebalan hukum sebuah “aktivitas riset ilmiah (menyangkut barang yg dikonsumsi publik) yg menghasilkan temuan ilmiah utk pengembangan ilmu” hrs diungkap ke publik? Bila setiap hasil penelitian kritis yg dilakukan oleh ilmuwan perguruan tinggi dipaksa utk diungkap ke publik, dan setelah itu penelitinya dituntut, maka ke depan tak akan ada lagi penelitian kritis yg dilakukan oleh para ilmuwan…

Kuatlah IPB-ku, jangan menyerah…

Salam
Arya H Dharmawan

Sebuah pencerahan, menggambarkan alasan mengapa IPB memilih untuk berdiam diri dalam kasus tersebut…

haruskah publik memaksa IPB untuk mecederai Etika Ilmiah yang sudah ada sejak awal?

Dan ajakah jaminan untuk IPB, bahwa IPB tidak akan dituntut balik oleh sang raja Kapitalis?

tak ada jaminan untuk itu…

Madu Lebah Mahnaz Food: Pilihan Premium untuk Kesihatan Harian dan Kecantikan Semula Jadi Admin 04 March 2026 Madu lebah telah lama dikenal...